Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan

PEMENANG KEHIDUPAN

Suatu hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya pun cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu. Lantas orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya, "Hei. Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?"

Sahabatnya menjawab, "Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain."

"Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali," bantah orang pertama. Ia masih merasa jengkel.

"Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri."

Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi.

Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.

"Pemenang Kehidupan" adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat....

BENARKAH AKHLAK SEORANG ANAK LEBIH PENTING DARI PINTAR DAN JUARA KELAS ?

Jika kami sedang berseminar pendidikan, yg umumnya di hadiri 300-600 peserta orang tua dan guru, maka jika kami tanya MANA YG LEBIH PENTING AKHAK ATAU PINTAR.... hampir seluruh ruangan kompak menjawab.... AKHLAK... MORAL....!!!!!

Wah senang sekali sy mendengar teriakan yg hampir kompak ini. Tapi masalahnya ini hanya sekedar TERIAKAN DI RUANG SEMINAR saja atau memang datang dari Pikiran yg sudah "tersadarkan" atau "tercerahkan"....?

Namun sedihnya fakta di lapangan...., tetap saja setelah kembali dari seminar... Para guru dan orang tua sama... kembali ribut dan gusar akan hasil ujian murid2nya, nilai..nilai raportnya. Begitu pula orang tua.... sibuk menekan anaknya untuk belajar dan mengerjakan setumpuk PR (yg sebenarnya hanya menghapal).

Juga sibuk menekan anaknya untuk ikut berbagai BIMBEL dan Kursus agar menjadi anak yg PINTER, JUARA DAN KALAU BISA JENIUS...

Padalah jelas-jelas.... Tokoh2 anutan masing2 agama di dunia, mulai Dari Krishna, Kristus, pangeran Sidarta dan Muhammad SAW.... tak satupun yg memusingkan nilai2 pencapaian IQ apa lagi untuk menjadi Jenius....

Semua tokoh agama besar ini mengajarkan kita untuk memiliki akhlak, moral dan karakter yg mulia. Untuk bisa mencapai hidup bahagia dan sukses di dunia dan akhirat.

Mengapa ini tidak di jadikan sebagai point utama mencapai sukses hidup dunia dan akhirat oleh mayoritas orang tua dan pendidik...?

Mari kita simak kisah sejarah berikut ini:

James Sidis terlahir dengan nama lengkap William James Sidis pada tanggal 1 april 1898 Di Amerika Serikat, James Sidis merupakan manusia paling jenius yang pernah ada di muka bumi dengan IQ (tingkat Kecerdasan) di atas 250-300. Kejeniusannya mengalahkan Da Vinci, Einstein, Newton dan ilmuwan lainnya. Nama James Sidis nyaris luput dari hingar bingar pemberitaan tentang para jenius di jagat ilmu pengetahuan.

Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar. menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda. Harvardpun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.

James Sidis lulus cumlaude sebagai sarjana matematika di usia 16. Selanjutnya Ia melanjutkan kuliahnya namun sempat tersendat karena dibully oleh sekelompok mahasiswa yang tidak menyukainya. Di usia 17 Sidis menerima tawaran sebagai asisten dosen sambil melanjutkan ke program doktor namun sayang Ia tidak menyelesaikan studinya dengan alasan merasa frustasi oleh sistem pembelajaran dan perlakuan kakak kelasnya. Saat itu Ia sempat mengeluh, “ Aku tidak tahu kenapa mereka memberiku pekerjaan ini dan menempatkanku sebagai orang spesial, aku sebenarnya tidak layak sebagai dosen. “

dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari !!!! Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit.

Di tahun 1919, Sidis ditangkap dan ditahan selama 18 bulan karena keterlibatannya dalam demo Socialist May Day di Boston. Saat itu Ia membuat pernyataan menentang wajib militer pada perang Dunia I. Penangkapannya itu sempat menghebohkan media masa sebagaimana saat Ia mengawali kiprahnya sebagai bocah jenius. Sejak keluar dari penjara, Sidis kemudian menghilang bak ditelan bumi dan setelah sekian lama jejaknya terendus oleh seorang reporter yang bertemu dengan seorang pemulung besi tua nan papa, ternyata dialah ‘ William James Sidis. ‘

Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun - sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Ironis. Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis memang sempat mengatakan kepada pers bahwa ia membenci matematika - sesuatu yang selama ini telah melambungkan namanya.

Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit memiliki teman. Bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak juga pernah memiliki seorang pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang terlambat.

Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis tidak kuasa. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja. Sudah terlanjur tertanam sebagai sebuah bom waktu, yang kemudian meledakkan dirinya sendiri.

Tapi mengapa kita masih juga belum menyadarinya....?

Mari kita renungkan...

AKU MILIK SUAMIKU DAN SUAMIKU MILIK IBUNYA

Seburuk apapun mertua, aku selalu ingat bahwa dia, adalah wanita yang mngandung suamiku dalam kepayahan selama 9 bulan.

Dia, adalah wanita yang air susunya menjadi makanan pertama bagi suamiku. Dia, ialah wanita yang mendidik dan membesarkan suamiku, yang mengajarkan kepada suamiku akhlaq sehingga aku nyaman di sisi suamiku saat ini.

Aku, ngga pernah keluar uang sepeserpun untuk nyekolahin suamiku, hingga ia dapat ijazah, yang sekarang ijazah itu ia gunakan untuk mencari nafkah, untuk menafkahi aku!

Aku, ngga sedikitpun mendidik suamiku hingga kini ia jadi pria yang penuh tanggungjawab, dan aku merasakan bahagia menjadi istrinya.

Setelah pengorbanannya yang bertubi tubi, anak laki-lakinya menikah denganku, dia bagi kasih sayang anaknya denganku.

Cemburu? Pasti dia cemburu. Aku wanita asing, yang kini selalu disayang-sayang oleh anak laki lakinya.

Harta anak laki lakinya tercurah untuk kunikmati, padahal ia yang melahirkan, membesarkan dan mendidik.

Aku memahami cemburu itu, walau aku pun merasakan cemburu ketika suamiku lebih memihak mertuaku.

Aku bukan malaikat yang ngga pernah jengkel dengan mertuaku, dan mertuaku pun bukan malaikat yang selalu kubela.

Adakalanya aku marah, cemburu dan sakit hati. Namun aku ingat semua jasanya pada suamiku, jasa yang sampai akhir hayat-pun aku ngga akan mampu membayarnya.

Pada ujung tangisku, terngiang nasehat ibundaku tercinta:

"Nak, dukunglah suamimu untuk berbakti pada ibunya. Jangan suruh ia memilih antara kau dan ibunya. Karena, kelak kau akan merasakan bagaimana sakitnya diperlakukan seperti itu oleh anak laki lakimu. Apa yg kau lakukan pada mertuamu, akan dilakukan pula oleh menantumu. Segala sesuatu pasti ada timbal baliknya.."

Dan tangisku makin deras.

Oh suamiku, bahagiakanlah orang tuamu semampumu. Semoga kelak anak-anak kita pun membahagiakan kita, sebagai balasan baktimu pada orang tuamu. Mumpung mereka masih hidup, belum tentu pula mereka masih bisa ngerepotin kita 10 tahun ke depan. Ngga lama, tapi balasannya adalah syurga.

JADILAH SEPERTI LEBAH … BUKAN LALAT

Seorang Penyair berkata :
شَرُّ الْوَرَى بِعُيُوْبِ النَّاسِ مُشْتَغِلُ .... مِثْلُ الذُّبَابِ يُرَاعِي مَوْطِنَ الْعِلَلِ
Seburuk-buruk manusia adalah yang hanya sibuk mencari aib/kekurangan orang-orang…. Seperti lalat yang hanya memperhatikan bagian luka 

فَعَيْنُهُ أَبَداً باِلسَّوْءِ مُغْرَمَةٌ .... فَلاَ يَرَى غَيْرَ قَبِيْحِ الْفِعْلِ وَالْخَلَلِ
Selalu saja matanya tertarik dengan melihat keburukan... Maka tidaklah ia memandang kecuali perbuatan buruk dan kesalahan…

وَلاَ تَرَى عَيْنُهُ إِلاَ مَسَاوِئَنَا .... وَتَشْتَهِي رُْؤَيَةَ الأَوْضَارِ وَالزَّلَلِ
Tidaklah matanya melihat kecuali keburukan-keburukan kita…Bahkan ia senang jika melihat kotoran-kotoran dan ketergelinciran… 

يَكْبِلُ النَّاسَ بِالأَصْفَادِ تَمْنَعُهُمْ .... مِنَ النُّهُوْضِ وَتَفَشِّي الْحِسِّ بِالْفَشَلِ
Ia mengikat manusia dengan belenggu yang menahan mereka …untuk bangkit dan menjadikan orang-orang selalu merasa gagal… 

Ada sebagian orang yang hobinya hanya mencari-cari kesalahan dan kekurangan…, hampir-hampir tidak ada sesuatupun yang menyenangkannya.

Tidaklah ia memandang makanan yang lezat terhidangkan kecuali matanya tertuju pada sehelai rambut yang tidak sengaja terjatuh di atas makanan tersebut, lalu diapun mencela makanan tersebut…!!

Tidak ada buku yang baik dan bermanfaat kecuali matanya tertuju pada kesalahan cetak yang terdapat pada buku tersebut…, tidaklah ia melihat pakaian yang bersih kecuali matanya tertuju pada setetes tinta yang –tanpa sengaja- mengotori baju tersebut…

Jika ia mengendarai kendaraan sahabatnya…maka spontan ia berkata, "Udah tua model mobilmu…!!"
Jika ia masuk ke rumah sahabatnya ia spontan berkata, "Perabot rumah udah lama dan usang, kenapa tidak diganti-ganti?, apa tidak bosan??!!"

Jika ia pulang kerumahnya –sementara istrinya sudah berjam-jam menyiapkan hidangan makanan- maka ia berkata, "Kenapa engkau tidak membuatkan aku makanan ini dan itu??!", padahal istrinya telah menyiapkan berbagai macam hidangan..

Lihatlah adab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
Abu Hurairoh radhiallahu 'anhu berkata :
مَا عَابَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَْط كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan, jika ia suka maka ia makan, dan jika ia tidak suka maka beliau tinggalkan" (HR Al-Bukhari no 3563 dan Muslim no 2064)

Anas bin Maalik radhiallahu 'anhu berkata,
وَاللهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ تِسْعَ سِنِيْنَ مَا عَلِمْتُهُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ أَوْ لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ هَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟
"Demi Allah aku telah melayani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selama sembilan tahu, aku tidak pernah mengetahuinya berkata kepada apa yang aku kerjakan, "Kenapa engkau melakukan ini dan itu", dan tidak juga pernah berkata kepada sesuatu yang aku tinggalkan, "Kenapa engkau tidak melakukan ini dan itu?" (HR Muslim no 2309).

Jadilah engkau seperti LEBAH yang hanya mengambil kebaikan dari sari-sari bunga dan meninggalkan keburukan-keburukan, bukan seperti lalat yang mecari-cari luka-luka yang bau…

SUNGGUH KASIHAN orang yang modelnya seperti ini…ia menyiksa dirinya…dan juga menyiksa orang lain… Tidak ada sesuatupun yang memuaskan dirinya…dan perkataannya selalu menyakiti perasaan orang lain…perasaan sahabatnya bahkan perasaan istrinya…

Bahkan bisa jadi orang-orang akan membalas perbuatannya…mencari-cari dan mengumbar kesalahan-kesalahannya …!!!

Al-Imam As-Syaafi'i rahimahullah berkata :
إَذَا رُمْتَ أَنْ تَحْيَا سَلِيْماً مِنَ الرَّدَى .... وَدِيْنُكَ موفورٌ وَعِرْضُكَ صَيِّنُ
Jika engkau ingin hidup selamat dari kehinaan…. Agamamu terjaga demikian pula harga dirimu… 

فَلاَ يَنْطِقَنْ مِنْكَ اللِّسَانُ بِسَوْأَةٍ .... فَكُلُّكُ سَوْءَاتٌ وَلِلنَّاسِ أَلْسُنُ
Maka janganlah sekali-kali lisanmu mengucapkan keburukan….Sesungguhnya seluruh dirimu adalah kekurangan dan orang-orang juga memiliki lisan (yang bisa mencelamu) 

وَعَيْنَاكَ إنْ أَبْدَتْ إِلَيْكَ مَعَايِباً .... فَدَعْهَا ، وَقُلْ يَا عَيْنُ لِلنَّاسِ أَعْيُنُ
Dan jika kedua matamu melihat aib-aib (orang lain)… maka tinggalkanlah dan katakanlah kepada matamu, "Wahai mataku, sesungguhnya orang-orang juga memiliki mata" 

وَعَاشِرْ بِمَعْرُوفٍ ، وَسَامِحْ مَنِ اعْتَدَى .... وَدَافِعْ وَلَكِنْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Hendaknya engkau bergaul dengan cara yang baik, maafkanlah orang yang bersalah kepadamu…Serta tolaklah kesalahan orang tersebut akan tetapi dengan cara yang terbaik 

Ingatlah kata Imam As-Syafi'i, "Dirimu seluruhnya adalah kekurangan…!!". Jika orang lain ingin mencari kesalahanmu maka seluruh bagian tubuhmu bisa menjadi bahan celaan…songkokmu… kaca matamu…cara jalanmu… wajahmu…tubuhmu..semuanya bisa jadi bahan celaan..!! 

TAPI…
Ini bukan berarti kita meninggalkan nasehat…bahkan menasehati kesalahan-kesalahan merupakan kewajiban…akan tetapi janganlah terlalu detail dan bersikap "mencari-cari", akan tetapi kesalahan yang jelas nyata dan tersebar maka tegakkanlah nasehat sebagai pengamalan perintah Allah dan RasulNya dalam bernahi mungkar !!!

Wallahu A'lam bi As-Showaab

=====================

BOLEHKAH AKU MEMANGGILMU "AYAH ???"

"Saat itu, acara kami bersilaturhmi di panti asuhan sudah hampir selesai.
Semua anak sudah dibagikan pakaian baru, perlengkapan sekolah dan sejumlah buku cerita dan majalah anak-anak. Makanan, minuman, serta sejumlah uang tunai yang di titipkan kepada ibu asrama.

Aku bersiap-siap hendak ke mobil, ketika seorang anak perempuan sebaya putriku berusia 6 th ...  dengan takut-takut mendekatiku ...

Om ... " tanyanya ragu ...
"Ya, ada apa sayang ???" aku mencoba ramah. Kulihat fia tidak seperti anak lainnya. Kulitnya sawo matang bersih dan wajahnya cantik. Matanya yang berbinar menunjukkan KECERDASAN dan KEMURNIAN HATI ...

"Om, bolehkah saya minta sesuatu ???"

"Mau minta apalagi ???" jawabanku terdengar agak ketus. Aku kaget juga mendengarnya ...
"Eh ... eh, maksud Om, apalagi yang kamu butuhkan ???" kucoba memperbaiki diri saat kulihat BOLA MATAnya mulai digenangi AIR MATA.

"Bo...bolehkah sa...sa...saya minta sesuatu ???" tanyanya terbata dengan suara nyaris hilang di embus angin.

"Tentu saja boleh ... Sayang. Mau boneka Barbie ???" Aku teringat putriku yang yang mengoleksi  Barbie lengkap dengan rumah, pakaian, dan pernak-pernik lainnya. Tapi gadis kecil ini menggelengkan kepala.

"Hmm ... sepatu baru mungkin ???"  aku mulai bermain teka-teki. Dia masih tetap menggeleng...

"Atzu sebuah sepeda mini ???"  tapi tetep saja dia menggeleng. Aku jadi kesal.
Mau minta apa sih ???" Uang barangkali omelku dalam hati ...

"Apa Om nggak MARAH ???" tanyanya takut-takut. Aku menggeleng menyejajarkan pandanganku dengan matanya sambil memegang kedua bahunya ...

Katakan sayang, mau minta apa ???"

"Mmm...mmm, bolehkah saya memanggil Om, AYAH ???" tuturnya dengan penuh keraguan. "Saya...saya... tidak pernah punya AYAH. Kata ibu Tien, kepala panti, Bapak mati ditabrak kereta api waktu saya masih dalam perut Ibu. Saya kepingin sekali punya AYAH. Bolehkah saya memanggil Om, AYAH ???" ...

Ya Allah, ada apa ini ??? Mengapa seorang anak panti tidak tertarik dengan benda-benda mahal yang kutawarkan kepadanya ???"
Dia hanya ingin memanggilku AYAH.
Aku tidak pernah MENANGIS, kehidupan yang keras telah mengajariku lupa MENITIKkan AIR MATA.

Tapi saat ini HATIku terguncang hebat. Allah swt secars telak mengalahkanku ... Astaghfirullah al - azhiim ...
Kupeluk dia erat-erat," Tentu saja SAYANG, kamu boleh memanggilku AYAH."

Betul ???" Wajahnya memyiratkan rasa tidak percaya, namun BAHAGIA. Kami BERPELUKAN beberapa saat...

"AYAH, bolehkah saya minta satu lagi ???" aku mengangguk ...

"Bolehkah saya minta...minta foto AYAH, IBU dan KAKAK-KAKAK ??? Saya akan kasih LIHAT sama teman-teman di sekolah, bahwa saya juga punya KELUARGA sama seperti mereka ... BOLEH ???"

Arsip Blog

Info Lowongan Kerja Solo Raya 2012